31 May
Beberapa waktu yang lalu, salah seorang famili tetangga saya meninggal dunia disebabkan penyakit yang sudah bertahun – tahun ia derita. Penyakit yang di dekade ini menjadi salah satu trendsetter dan sangat mudah untuk diderita oleh siapa saja, yakni gula darah, kolestrol, dan diabetes. Dalam kurun waktu kurang lebih 1 tahun masa pengobatan intensifnya, biaya yang dikeluarkan pihak keluarganya mencapai hampir senilai 1 milyar rupiah. Dan yang menarik adalah sebuah drama yang terjadi tepat 1 jam sebelum dia meninggal dunia.
Waktu itu, karena kondisi luka dikakinya yang sudah sedemikian parah, agar tidak menyebar lebih cepat Team Dokter memutuskan untuk meng-amputasi saja kakinya. Secara medis, langkah ini memang harus diambil. Karena tidak ada solusi lain yang lebih baik, akhirnya pihak keluarga pun menyetujui, dan diamputasilah kaki beliau. Tepat satu jam setelah amputasi, ternyata beliau menghembuskan nafasnya yang terakhir. Pihak keluarga pun marah – marah kepada Team Dokter, seolah tidak percaya dan tidak bisa terima dengan kenyataan bahwa akhirnya famili mereka itu meninggal dunia.
“Kalau tau dia akan meninggal begini, buat apa di amputasi kakinya!!!”, teriak salah satu keluarga kepada salah seorang dari Team Dokter yang melakukan amputasi.
“Bapak”, Jawab si Dokter tenang, “Hidup mati seseorang Tuhan yang mengatur. Kami hanya menjalankan tugas kami sebagai Dokter dan berusaha melakukan yang terbaik untuk pasien kami dengan mengambil tindakan – tindakan medis yang diperlukan.”
Begitulah, sobat blogger… si almarhum telah menjalani 1 tahun terakhirnya dari rumah sakit ke rumah sakit, mendatangi berbagai pengobatan alternatif, minum berbagai macam obat, dan tentu saja HARUS mengeluarkan biaya yang luar biasa besar. Dan saya yakin, anda semua setuju dengan saya, gambaran kehidupan seperti ini jelas bukan suatu gambaran pola hidup yang menggembirakan dan layak untuk dicita – citakan. Atau ada yang bercita – cita demikian?
Sahabatku, ketahuilah, ketika kita sakit parah… bukan hanya diri kita yang menderita, akan tetapi kita juga turut menyeret orang – orang yang kita kasihi untuk ikut menderita. Menderita bersama kita. Betapa tidak, kita menyeret mereka untuk mencemaskan kita terus menerus, menyita waktu kerja mereka, waktu istirahat mereka, dan juga menguras energi mereka untuk sekedar mengurus kita.
Iya kalau soal keuangan udah nggak mikirin lagi dalam artian sudah mencapai tahapan Financial Freedom atau mungkin dibayari asuransi seluruhnya, bagaimana kalau kondisi keuangannya pas – pasan? Bukankah kita justru memberikan tekanan jauh lebih besar lagi pada orang – orang yang kita sayangi dan membuat mereka pontang panting mencari biaya pengobatan kita.
Sebagian besar dari kita, manusia, adalah mahluk yang lalai. Ketika kita sehat, kita sering kali lalai untuk menjaga ‘asset’ paling berharga yang dihadiahkan Tuhan pada kita. Kita lupa bersyukur.
Bagi sebagian besar orang, pola hidup, kesibukan kerja, aktivitas yang padat dan tak kenal waktu, tak jarang pula kondisi emosi yang labil, serta pola makan tidak teratur, telah menempatkan kesehatan pada urutan nomor sekian dalam urutan prioritas kehidupan. Padahal kita semua sepakat bahwa kesehatan seharusnya adalah prioritas nomor 1, karena dengan sehat lah kita bisa menjalankan seluruh aktivitas kita secara optimal.
Bagi kita yang memiliki kesibukan luar biasa, memang sangat – sangat sulit untuk menerapkan pola hidup sehat. Berolah raga setiap hari secara teratur, mengkonsumsi makanan yang mengandung protein, vitamin, karbohidrat, dan mineral secara berimbang tentu tidak mudah. Tapi tidak berarti kita tidak bisa menerapkan pola hidup sehat. Rahasianya adalah pada diri kita sendiri, bukan soal bisa tidaknya, melainkan mau tidaknya kita menerapkan pola hidup sehat.
Kita tidak bisa berolah raga setiap hari secara teratur, tapi kita bisa berolah raga 1 minggu sekali secara teratur untuk sekedar menjaga kebugaran fisik. Kita tidak bisa mengkonsumsi makanan dengan komposisi protein, vitamin, karbohidrat, dan mineral berimbang setiap harinya, tapi kita dapat dengan mudah mencukupinya dengan mengkonsumsi ‘suplemen – suplemen’ berkualitas prima dan yang telah terbukti mampu mencukupi apa yang tubuh kita butuhkan setiap harinya. Kita bisa menyediakan waktu di akhir pekan untuk berlibur bersama keluarga, teman, sahabat, atau siapa saja yang kita sayangi untuk menjaga keseimbangan emosi.
Sekali lagi saya tekankan, ini bukan soal bisa nggak bisa kita menerapkan pola hidup sehat, melainkan mau nggaknya kita untuk melakukannya.
Yang terpenting, apapun cara yang kita pilih, mari jadikan KESEHATAN sebagai prioritas dalam aktivitas no. 1 hidup kita. Bukankah mencegah jauh lebih baik dibandingkan mengobati? Mari PEDULI pada kesehatan kita. Mari menjadi orang – orang yang PEDULI.
Ingatlah, ketika kita sakit, bukan hanya kita yang menderita. Tapi kita juga menyeret orang – orang yang kita sayangi ikut menderita. Kita membuat mereka yang kita cintai susah. Apa ini yang kita inginkan? Karena itu, marilah kita PEDULI pada orang – orang yang kita cintai. Bukan hanya demi diri kita sendiri, tapi untuk mereka juga, kita harus selalu sehat. Kita harus berjuang untuk menjaga kesehatan kita. Demi rasa Syukur kita pada Sang Pemberi Nikmat Kesehatan, demi orang – orang yang kita cintai, dan juga demi diri kita sendiri.
Salam Sehat,
Rizal
PS : Tulisan ini saya dedikasikan untuk mengenang 40 harinya Almarhumah Sassie Kirana Bt. Abd. Muthallib (Tgl. 29 Mei 2009) dan juga sahabat saya Fauzan yang telah berpulang kehadirat-Nya dalam kecelakaan maut di Kota Pangkalpinang beberapa waktu yang lalu.
16 Responses for "Mencegah Jelas Lebih Baik"
blue dan kezedot selalu saja menaruh doa dalam hati blue saat mengenang kembali comand serta kata perkata sahabat blue jeung sashi…………..
dia ada dalam bentuk yang sangat indah di bingkai persahabatan blue dan kezedot.
makasih u selalu memberikan bunga yang mungkin sangat segar tuk di cium olehnya atas segala kebaikanmu padanya. juga sahabat sahabatmu yang lain
salam hangat selalu
iya euy…
maka bertambahlah satu lagi ‘death-wish’ saya…
saya ingin mati dalam tidur, tanpa menyusahkan banyak orang…
ps: sabar om rijal. kematian hanya sekadar menyebrangi dunia… kendatipun mereka dinyatakan mati, namun persahabatan dan pertemanan mereka, dalam arti yang paling baik, masih selalu ada, karena abadi…
makasi rizal atas kunjungannya… nah sekarang mbk mo kasi komen nih..
Memang benar, kita sering lalai menjaga kesehatan. Saat ini penyakit datang tidak kenal umur dan ekonomi. Banyak saya temukan temen2 yang masih relatif sangat muda meninggal dunia karena penyakit yang notabene sering diderita orang tua. Saya kadang tidak habis fikir kenapa bisa seperti itu, meninggal pada usia yang masih produktif, sangat disayangkan.. yang semoga ini menjadi warning bagi kita semua untuk care for our healty.
hmm…pengalaman adalah guru yang paling baik.. apa yang dialami sepupu saya SASSIE mungkin bisa dijadikan pelajaran bahwa penting menjaga kesehatan, semasa hidupnya sie seorang yang energik dan sangat aktif sering mengabaikan waktu makan dan istirahat..saya tau persis karena saya sendiri yang suka nyerewetin dia dan sering ngingetin..
Meski begitu saya gak pernah merasa dia sudah membebani saya dengan penyakitnya..saya ikhlas menemani dan menjaganya sampai dia menghembuskan nafas terakhirnya..
semua sudah menjadi garis hidupnya..saya yakin dia sudah sangat bahagia…
Thanks ya mas..untuk semua yang pernah mas lakukan untuk almarhumah..
ah iya om rizaL..
kesehatan Lebih penting..
dan memang harus di jaga..
sayah pun punya ‘bibit’ diabetes (mama dan kakek sayah penderita diabetes) dan sekarang si masih masuk kategori ‘berdarah manis’ (emang manis si sayah sebenar nya
) ..
dan sangat bermasaLah dengan yang nama nya Luka dan apa pun yang terjadi pada kuLit..
jadi nya ya harus muLai menjaga poLa makan dan hidup, agar saat beranjak tua diabetes itu tak merepotkan sayah..
(koq maLah curhat ya? hhi)
makasi ya om sudah boLeh pakai pin nya..
mari berbagi kasih sayang kepada stemua orang..
ah iya.. mungkin begitu juga.
tapi yang sayah tau (dari kuLiah) diabetes ada yang di turusn kan..
bukan penyakit nya yang diturunkan tetapi kemampuan tubuh yang Lemah untuk menghasiLkan insuLin itu yang diturunkan, Lebih tepat nya kinerja pankreas nya yang diturunkan dari orang tua nya.. begitu om sepengatuian sayah.
tapi bisa juga yang tak punya sejarah diabet bisa mengidap jika poLa hidup dan makan nya tak di jaga..
siip om pin nya, sayah jadi ingin berbuat sesuatu yang sama.. hhi.
ayo semangat!
Kenapa orang tidak mau mencegah seseuatu yang akan membahayahkan nya namun melakukan apa yang akan membahayakannya
ketika saya tidak bisa menjaga mereka dengan bentuk fisik,
saya berusaha menjaga mereka dengan kasih sayang.
dan, ijinkan aku menjagamu…
tetap semangat dan tersenyum ya bang
salam hangat selalu
siang sahabat@
pa cabar?
salam hangat selalu
maap om ganggu ni.
ada award dari sayah..
terima ya
http://tuannicogarukgarukpala.wordpress.com/2009/06/03/seminggu-lagi-tak-sabar/
Assalaamu’alaikum Bang..
Makasih Bang udah mengingatkan kita semua akan pentingnya menjaga kesehatan.. Bener yg Bang Rizal bilang, kita terkadang (bahkan sering) lupa untuk menjaga anugerah yg begitu luar biasa ini, dan menyia-nyiakan begitu aja.
Makasih Bang.. keep healthy!
soalnya kalo dah kejadian ribet dan biayanya mahal
jadi lebih baik emang di cegah
Saya ingat ketika dulu sekitar 3 tahun lalu ibu saya untuk pertama kalinya didiagnosa mengidap penyakit diabetes. Awalnya beliau begitu bersedih dan juga anak-anaknya. Hal ini dikarenakan minimnya pengetahuan tentang diabetes sehingga membuat kami sempat shock dan berpikiran bahwa penyakit ini adalah penyakit yang begitu dekat dengan kematian. Namun seiring waktu saya dan anggota keluarga menjadi tahu banyak tentang penyakit diabetes. Penyakit yang sampai sekarang ini belum ada obatnya ini hanya bisa dikendalikan dengan menjaga pola makan, mengatur pola hidup, rutin berolahraga dan selalu berpikir positif. Berikanlah selalu senyuman dan dukungan kepada mereka yang menderita diabetes, karena akan sangat berarti bagi mereka dalam menghadapi sakitnya penyakit ini
blue selalu mengenang dia,sahabat?
salam hangat selalu
Saya setuju mencegah lebih baik dari pada mengobati karena biaya pengobatan sekarang makin mahal. Dengan makin mahalnya biaya rumah sakit, maka kita perlu sekali memperhatikan mengenai perencanaan yang satu ini. Trims yah artikel. Success for yOu.
Leave a reply