Beberapa waktu yang lalu, salah seorang famili tetangga saya meninggal dunia disebabkan penyakit yang sudah bertahun – tahun ia derita. Penyakit yang di dekade ini menjadi salah satu trendsetter dan sangat mudah untuk diderita oleh siapa saja, yakni gula darah, kolestrol, dan diabetes. Dalam kurun waktu kurang lebih 1 tahun masa pengobatan intensifnya, biaya yang dikeluarkan pihak keluarganya mencapai hampir senilai 1 milyar rupiah. Dan yang menarik adalah sebuah drama yang terjadi tepat 1 jam sebelum dia meninggal dunia.

Waktu itu, karena kondisi luka dikakinya yang sudah sedemikian parah, agar tidak menyebar lebih cepat Team Dokter memutuskan untuk meng-amputasi saja kakinya. Secara medis, langkah ini memang harus diambil. Karena tidak ada solusi lain yang lebih baik, akhirnya pihak keluarga pun menyetujui, dan diamputasilah kaki beliau. Tepat satu jam setelah amputasi, ternyata beliau menghembuskan nafasnya yang terakhir. Pihak keluarga pun marah – marah kepada Team Dokter, seolah tidak percaya dan tidak bisa terima dengan kenyataan bahwa akhirnya famili mereka itu meninggal dunia.

“Kalau tau dia akan meninggal begini, buat apa di amputasi kakinya!!!”, teriak salah satu keluarga kepada salah seorang dari Team Dokter yang melakukan amputasi.

“Bapak”, Jawab si Dokter tenang, “Hidup mati seseorang Tuhan yang mengatur. Kami hanya menjalankan tugas kami sebagai Dokter dan berusaha melakukan yang terbaik untuk pasien kami dengan mengambil tindakan – tindakan medis yang diperlukan.”

Begitulah, sobat blogger… si almarhum telah menjalani 1 tahun terakhirnya dari rumah sakit ke rumah sakit, mendatangi berbagai pengobatan alternatif, minum berbagai macam obat, dan tentu saja HARUS mengeluarkan biaya yang luar biasa besar. Dan saya yakin, anda semua setuju dengan saya, gambaran kehidupan seperti ini jelas bukan suatu gambaran pola hidup yang menggembirakan dan layak untuk dicita – citakan. Atau ada yang bercita – cita demikian? :)

Sahabatku, ketahuilah, ketika kita sakit parah… bukan hanya diri kita yang menderita, akan tetapi kita juga turut menyeret orang – orang yang kita kasihi untuk ikut menderita. Menderita bersama kita. Betapa tidak, kita menyeret mereka untuk mencemaskan kita terus menerus, menyita waktu kerja mereka, waktu istirahat mereka, dan juga menguras energi mereka untuk sekedar mengurus kita.

Iya kalau  soal keuangan udah nggak mikirin lagi dalam artian sudah mencapai tahapan Financial Freedom atau mungkin dibayari asuransi seluruhnya, bagaimana kalau kondisi keuangannya pas – pasan? Bukankah kita justru memberikan tekanan jauh lebih besar lagi pada orang – orang yang kita sayangi dan membuat mereka pontang panting mencari biaya pengobatan kita.

Sebagian besar dari kita, manusia, adalah mahluk yang lalai. Ketika kita sehat, kita sering kali lalai untuk menjaga ‘asset’ paling berharga yang dihadiahkan Tuhan pada kita. Kita lupa bersyukur.

Bagi sebagian besar orang, pola hidup, kesibukan kerja, aktivitas yang padat dan tak kenal waktu, tak jarang pula kondisi emosi yang labil, serta pola makan tidak teratur, telah menempatkan kesehatan pada urutan nomor sekian dalam urutan prioritas kehidupan. Padahal kita semua sepakat bahwa kesehatan seharusnya adalah prioritas nomor 1, karena dengan sehat lah kita bisa menjalankan seluruh aktivitas kita secara optimal.

Bagi kita yang memiliki kesibukan luar biasa, memang sangat – sangat sulit untuk menerapkan pola hidup sehat. Berolah raga setiap hari secara teratur, mengkonsumsi makanan yang mengandung protein, vitamin, karbohidrat, dan mineral secara berimbang tentu tidak mudah. Tapi tidak berarti kita tidak bisa menerapkan pola hidup sehat. Rahasianya adalah pada diri kita sendiri, bukan soal bisa tidaknya, melainkan mau tidaknya kita menerapkan pola hidup sehat.

Kita tidak bisa berolah raga setiap hari secara teratur, tapi kita bisa berolah raga 1 minggu sekali secara teratur untuk sekedar menjaga kebugaran fisik. Kita tidak bisa mengkonsumsi makanan dengan komposisi protein, vitamin, karbohidrat, dan mineral berimbang setiap harinya, tapi kita dapat dengan mudah mencukupinya dengan mengkonsumsi ‘suplemen – suplemen’ berkualitas prima dan yang telah terbukti mampu mencukupi apa yang tubuh kita butuhkan setiap harinya. Kita bisa menyediakan waktu di akhir pekan untuk berlibur bersama keluarga, teman, sahabat, atau siapa saja yang kita sayangi untuk menjaga keseimbangan emosi.

Sekali lagi saya tekankan, ini bukan soal bisa nggak bisa kita menerapkan pola hidup sehat, melainkan mau nggaknya kita untuk melakukannya.

Yang terpenting, apapun cara yang kita pilih, mari jadikan KESEHATAN sebagai prioritas dalam aktivitas no. 1 hidup kita. Bukankah mencegah jauh lebih baik dibandingkan mengobati? Mari PEDULI pada kesehatan kita. Mari menjadi orang – orang yang PEDULI.

Ingatlah, ketika kita sakit, bukan hanya kita yang menderita. Tapi kita juga menyeret orang – orang yang kita sayangi ikut menderita. Kita membuat mereka yang kita cintai susah. Apa ini yang kita inginkan? Karena itu, marilah kita PEDULI pada orang – orang yang kita cintai. Bukan hanya demi diri kita sendiri, tapi untuk mereka juga, kita harus selalu sehat. Kita harus berjuang untuk menjaga kesehatan kita. Demi rasa Syukur kita pada Sang Pemberi Nikmat Kesehatan, demi orang – orang yang kita cintai, dan juga demi diri kita sendiri.

Salam Sehat,

Rizal

PS : Tulisan ini saya dedikasikan untuk mengenang 40 harinya Almarhumah Sassie Kirana Bt. Abd. Muthallib (Tgl. 29 Mei 2009) dan juga sahabat saya Fauzan yang telah berpulang kehadirat-Nya dalam kecelakaan maut di Kota Pangkalpinang beberapa waktu yang lalu.