Your Life is Your Responsibility

Wow… judulnya provokatif banget yach, kesannya berat banget gitu xixixi… But don’t worry Sist & Bro, saat ini mood saya cuma seneng nulisin yang ringan – ringan aja kok. Seperti beberapa artikel terakhir saya lah… Kalo bisa nulis artikel yang bikin enjoy, ngapain nulisin hal – hal yang mengharuskan beli Aspirin sesudahnya, ya nggak? ^_^

Inspirasi untuk tulisan ini, saya dapatkan dari seorang WANITA istimewa yang Instant Date dengan saya kira – kira satu minggu yang lalu.

Kenapa saya bilang dia istimewa? Itu karena dia memiliki KISAH HIDUP yang luar biasa dan dia mampu menghadapi tantangan hidupnya dengan baik.

Saya nggak akan menceritakan tentang wanita ini, ataupun menceritakan kisahnya yang luar biasa… tapi saya cuma ingin sharing aja ke sobat semua, PELAJARAN BERHARGA yang saya dapet dari wanita luar biasa ini.

Sobatku yang baik, sebelumnya saya ingin tanya dulu ke sobat semua… ARE U all feeling FREE in living your life NOW? ARE U HAPPY WITH YOUR LIFE?

E Bien… in LIFE GAME (Jika saya andaikan dengan Permainan CATUR)… kita ~secara tidak sadar~ sering kali berada di posisi BIJI CATUR bukan di posisi SANG PLAYER. Kita MUNGKIN merasa POSISI kita bagus, STRATEGI nya tepat, LANGKAH ini excellent… tapi sesungguhnya, BUKAN KITA SENDIRI yang membuat posisi kita bagus, memainkan strategi yang tepat atau langkah yang excellent, melainkan PLAYER.

*Kalau biji catur nya bisa jalan sendiri sesuai keinginan dia… player nya pasti pada booking tempat di rumah sakit jiwa… xixixixi… Gimana nggak, player mo kudanya jalan “L”, kudanya pengen jalan “U”… Gimana tuh??? He he he…*

Key… saya terjemahkan kedalam bahasa Indonesia aja deh… gini… saya kasih contoh gini, disekitar kitalah… mungkin kita sering kali denger, atau lihat, atau mengalami langsung beberapa kondisi seperti ini :

“Gue DI MINTA ikut TEST PNS tahun ini oleh ortu gue. Ortu gue bersikeras mau gue jadi PNS. Bahkan mereka bersedia bayar berapapun asal gue lulus. Padahal gue INGIN-nya bla bla bla….”

“Gue nggak bisa makan dengan mu malem minggu nanti, soalnya BOS GW MINTA GW ngerjain tugas matematika anak nya. Padahal gw udah… bla bla bla…” ( Oke – oke, yang ini sedikit berlebihan ^_^ )

“Gue sungguh mencintai kamu, sayang. Cuma lu satu – satunya wanita yang ada di hati gw. Tapi nenek gue maunya gw nikah ma… bla bla bla… “

“Gue nggak bisa melakukan ini dan itu… soalnya ibu gue maunya gue begono dan begunu….”

Dan masih banyak lagi kondisi – kondisi semacam itu terjadi di sekitar kita atau mungkin yang kita sendiri alami.

Secara sadar atau tidak, KITA MELAKUKAN sesuatu karena orang lain yang MAU KITA MELAKUKAN itu. Apakah ini menyenangkan?

Sahabatku, ketahuilah… HIDUP KITA ADALAH TANGGUNG JAWAB KITA.

Saya ulangi sekali lagi… HIDUP KITA ADALAH TANGGUNG JAWAB KITA, bukan tanggung jawab orang lain.

Jadi… mari MELAKUKAN apa yang INGIN KITA LAKUKAN, bukan yang ORANG LAIN INGIN KITA LAKUKAN. (Tentu untuk hal yang positif loh ya… xixixi… ntar lu pada minum Sianida, karena lu INGIN minum sianida… lu nuduh saya pula yang nyaranin… :P wekkks enak aja lu!!! )

Saya nggak ada maksud apa – apa, apalagi sok menggurui… nggak lah… ^_^, cuma ingin sharing aja disini dan saya sangat berharap kita bisa hidupLEBIH BAIK dan LEBIH BAHAGIA dengan “bebas” MELAKUKAN APA YANG INGIN KITA LAKUKAN untuk hidup kita.

“Gue ingin ikut test PNS tahun ini, karena Gue INGIN ikut berkontribusi memajukan daerah gue. Gue harap gue bisa lulus… sehingga gw bisa berbuat lebih untuk kemajuan daerah gw, lebih luas lagi, untuk Bangsa dan Negara gue…”

“Maaf sayang, ‘mang bener lu adalah satu – satunya cewe di hati gue, tapi gue ngga bisa nikah dengan lu karena gue mo nikah ma LUNA MAYA. Kecuali lu mau diet dan operasi wajah lu agar jadi lebih cantik, gue tetep mau nikah ma Luna Maya.” Xixixixi…. :P *dream on!!!*

Nah tuh… enak nggak kalo alasannya gitu. KITA MELAKUKAN itu karena KITA MEMANG INGIN MELAKUKANNYA.

In LIFE GAME… kita harus jadi PLAYER nya, bukan SUBJEK PERMAINAN nya…

Ingat, KITA BERTANGGUNG JAWAB ATAS HIDUP KITA. So… JUST DO WHAT WE WANT TO DO and what We Have to do… for our life. Untuk kebaikan kita, untuk kebahagiaan kita.

Jangan sampai KITA MENYESAL di kemudian hari… lantaran kita tidak bisa membuat KEPUTUSAN untuk hidup kita. Lantaran kita tidak bisa bertanggung jawab untuk hidup kita.

Ini aja yang bisa saya sharingkan kali ini, Thanks…

Rizal

You can leave a response, or trackback from your own site.

20 Responses to “Your Life is Your Responsibility”

  1. liudin says:

    sedikit komentar mengenai kalimat terakhir. setiap orang pasti mampu membuat keputusan. terlepas dari benar atau salah. tapi kita sebagai manusia hendaklah mencari yang terbaik

    Rizal : Ini kunjungan pertama mas Liudin yach di Blog saya… ^_^, kl gitu izinin saya untuk mengucapkan terima kasih saya ke Mas Liudin yach yang sudah berkenan hadir di blog ini…

    Benar banget Mas Liudin.. Setiap orang SEHARUSNYA mampu membuat keputusan. Tapi sayangnya… kadang dalam REAL LIFE… apa yang terjadi justru berbeda, sangat berbeda…

    Seperti yang saya singgung di awal postingan ini tentang si Wanita ini… sebetulnya tepatnya sih TENTANG PRIA yang pernah menjadi suami si wanita ini…

    Mas Liudin tau, karena si Pria ini NGGAK BISA MEMBUAT KEPUTUSAN untuk HIDUP nya (Selalu terpaku pada KEMAUAN ORTU-nya… padahal kemauan ortu itu ~saya katakan saja~ kurang baik dan sangat bertentangan dengan nurani si Pria sendiri).

    Apa yang kemudian terjadi? keluarga nya tercerai berai… dia kehilangan pekerjaannya… dan mungkin lebih banyak penyesalan demi penyesalan yang tersisa untuk si pria itu… saat ini…

    Oke… saya salah disini… sesungguhnya si PRIA itu sudah membuat KEPUTUSAN… yakni dengan terus mematuhi APA KATA ORANG TUA-nya… sekalipun itu buruk, tidak membawa kebaikan untuk dirinya, dan bertentangan dengan KEINGINAN serta hati nurani-nya…

    Jadi… di postingan ini… sebetulnya saya cuma ingin mengajak kita semua agar bisa LEBIH BAHAGIA dengan MELAKUKAN APA YANG INGIN KITA LAKUKAN, yang sesuai dengan keinginan dan hati nurani kita dan juga demi kebaikan kita…

    Tapi bukan berarti saya mengajak kita MENENTANG ORTU loh yach, jika memang yang disarankan ortu untuk kita itu BAIK… kenapa harus diabaikan? Tapi jika yang diinginkan orang tua kita ternyata berdampak buruk, apa harus kita ikuti?

    BTW… thanks ya Mas Liudin untuk kesediaanya sharing disini :)

  2. Assalaamu’alaikum

    Alhamdulillah, penulisan yang baik sekali. penuh dengan contoh-contoh yang mantap, santai dan betul-betul ringan.. cuma saya kurang faham beberapa perkataan tapi saya faham akan maksudnya.. hehehe.. rasanya hanya saya yang perlukan “paracetamol” untuk menghilangkan pusing kepala ini.

    Saya setuju dengan Rizal bahawa hidup kita adalah tanggungjawab kita. Kita diberi kekebasan sebagai manusia merdeka untuk mengurus diri sendiri bukan menjadi telunjuk kepada orang lain yang akan mengarahkan kita untuk buat itu atau buat ini. Semua orang punya hak atas kebebasan hidupnya. yang ada pada orang lain untuk kita ikut hanyalah CADANGAN ATAU NASIHAT.. keputusannya adalah diri kita sendiri.

    Salam mesra dari Bangi, Malaysia.

    Rizal : Wa’alaikum salam wr.wb., bunda… Terima kasih banyak Bunda untuk mengingatkan saya…
    Iya… next time saya akan menggunakan bahasa yang lebih baik lagi, biar bisa di baca oleh semua dan bisa dimengerti dengan semudah – mudahnya…
    Terima kasih ya BUnda…

  3. zulhaq says:

    pastinya kita bertanggung jawab atas apa apa yang kita pututskan, kita hadapi dan kita jalani dalam kehidupan ini. tentu tanggung jawab menuju sesuatu hal yang baik

    oh ya, gw cuman mau ngasih masukan dikit, di sini lw make kata, “gw dan gue”. artinya memang sama. tapi, alangkah baiknya, dituliskan seragam. kalo “gw” ya itu aja terus. kalo “gue” ya itu aja. yah, mana yang lebih terbiasa dan lebih nyaman aja sih. begitu juga dengan orang kedua “lw, loe, lo, lu”. kalo seragam, lebih enak ngebacanya, dan kelihatan lebih konsisten…

    sorry, kepanjangan. cuman masukan aja kok, gak dirubah juga gak ada masalah. sesuai kenyamanan masing masing aja :)

    Salam Sinting!!!

    Rizal : Siap Komandan!!! Laksanakan!!! xixixixi… Sayo juga ngerasa aneh nih nulisin gini… mungkin ntar mo sayo edit juga… biar yang baca lebih enak gitu..

    Seperti halnya Bunda Siti Fatimah, pastilah beliau kebingungan banget baca postingan itu…

    Sayang banget kalau apa yang di tulisken, nggak bisa di fahami lantaran cuma gaya penulisan aja yang nggak beres…

    Makasih ya bro…

    Sinting Selalu bro!!! ^_^ Arigatto…

  4. Mengambil keputusan termasuk gampang, tapi bertanggung jawab atas keputusan itu sendiri memang berat….

    Rizal : Dan ini juga yang akan menjadi PENENTU kan, SIAPA DIRI KITA SESUNGGUHNYA?

    Tanpa ada KEBERANIAN untuk bertanggung jawab, maka bisa di pastikan bahwa HIDUP kita tidak akan pernah memiliki MAKNA di atas dunia ini.

    Thanks Bro untuk kerhadirannya lagi… ^_^, sharing-nya nggak sengaja kejala spam bro :)

  5. aldy says:

    Salam subuh Mas Rizal, terima kasih sudah mampir ke gubuk saya.
    “Your Life is your resposibility”, Great.
    Yang menjalani hidup ini kita sendiri bukan orang lain dan tentu saja kita harus siap dengan segala resiko yang telah diambil.
    Dan tidak semua, ada kalanya sebuah keputusan juga berdasarkan pendapat atau masukan dari orang lain.
    Tetapi yang krusial ada baiknya kita bicarakan juga dengan yang lebih senior, tetapi keputusan akhir ada ditangan kita.

    Rizal : Terima kasih juga Mas Aldy untuk kehadiran nya di Rumah sederhana ini…

    Sangat setuju dengan Mas Aldy disini, bahwa kita HARUS BERANI menerima RESIKO dari setiap KEPUTUSAN yang diambil.

    Pendapat orang lain tentang ’suatu hal’ ada kalanya juga sangat penting, lantaran orang lain BISA MELIHAT hal – hal tersebut dari perspektif dan sudut pandang yang berbeda dengan kita… itu artinya, kita akan memiliki lebih banyak INFORMASI untuk dianalisa dalam mengambil sebuah KEPUTUSAN.

    Thanks ya Mas Aldy untuk sharing nya… it’s very pleasure to find u here ^_^

  6. aku masih butuh saran ato pendapat orang lain untuk memutuskan sesuatu dalam hidupku….tapi bener koq, pada akhirnya aku yang harus mengambil keputusan yang terbaik untuk hidupku.

    Rizal : Saran dari orang lain tentu penting untuk memperkaya INFORMASI sebelum kita memutuskan sesuatu…

    Lagi pula… disadari atau tidak, setiap waktu KITA PASTI membuat keputusan kok…

    Bangun pagi atau bermalas – malasan… bertindak segera atau menunda suatu pekerjaan… menyiapkan pakaian suami atau membiarkan suami menyiapkan segala sesuatunya sendiri… dll..

    Semuanya adalah KEPUTUSAN yang kita ambil, dan sebagian besar SUDAH MENJADI BAGIAN dari kebiasaan kita sehari – hari…

    Tentu saja, masing – masing ada konsekuensi nya kan? ^_^

  7. mm,, bener sih, hidup itu tanggung jawab masing-masing, mau dibawa kemanakah kapal ini kan berlabuh? karena kitalah nahkoda atas kapal kita sendiri. menjadi karam kah? atau berlabuh pada pantai yang indah tiada tara, semua tergantung dari kita sendiri.

    Rizal : Wah… ini luar biasa mas Hanif… saya suka banget tuh kalimat “kitalah nahkoda atas kapal kita sendiri”… berhubung saya suka One Piece… mungkin saya lebih suka kalimat, “Kitalah CAPTAIN di atas Kapal Bajak Laut kita sendiri”… ^_^

    Thanks ya Mas Hanif untuk sharingnya… saya suka banget tuh kalimat yang itu…

  8. inge says:

    mas Rizaaaaaaaal…

    masih inget sayah kaaaaaan???

    *sandal melayang karena comment yang OOT, hihi*

    Rizal : ^_^ Ya masih dunk… kan masih ada terus tuh link blog nya Inge di blog saya… xixixixi… *Ntar sandal nya tolong balikin yach*

  9. Adiet says:

    Do it what u think the best for ur life.. halah sok teu saya hehehe.. Pa kabar bos?..

    Rizal : Kabar baik, Adiet… Adiet kabarnya gimana? Eh… kl ada niatan ganti no telpun… sayo di kasih tau loh Diet yach… xixixixi…

  10. inge says:

    permisiiii…
    mau balikin sandal…
    terima kasih
    *kabuuuur*

    Rizal : Eh…yang satunya juga dong…. sekalian juga sama sendal ibu gw tuh, tadi gw pakai juga buat ngelemparin elu… yang sebelah kanannya… xixixixi….

  11. Inge says:

    beuuuuh abaaaang, emang td ngelempar berapa sandal?? koq g ada yg kena :D

    *jongkok truz nyariin sandal bang rizal diantara tumpukan sandal hasil kiriman orang2 yg laen*

    **koq berasa comment status di fb yah, hihi**

    Rizal : Dah ketemu belum??? Cepetan.. gw mo gi ngamen nih???? aha ha ha ha… *Gw add aja FB nya yach ^_^*

  12. wahh.. menginspirasi banget..
    kita melakukan apa yang ingin kita lakukan, bukan orang lain yang inginkan kita lakukan…

    seepp…seepp.. seeppp

    Rizal : Bukankah dengan melakukan APA YANG INGIN KITA LAKUKAN, (yang sesuai dengan hati nurani dan tentunya tetap berpegang dengan nilai – nilai kebaikan loh ya) kita bisa CERIA SELAMANYAH…. ^_^

  13. kezedot says:

    blue senang om rizal semakin kreatif
    salam dalam kehangatan musim

    telphon blue dong heheh……………

    Rizal : Xixixixi… Soal kreatif mah dah dari dulu Blue… dan soal telpon sih… ^_^ aha ha ha….

  14. Dewi Yana says:

    Assalamu’alaikum,
    Mohon maaf, saya lama tidak mengupdate blog saya yang http://dakwahdewiyana.blogdetik.com (blog tempat Mas Rizal memberikan komentar). Jadi komentarnya baru terbaca dan baru bisa saya balas kunjungan sekarang. Saya lebih aktif ngeblog di blog pertama saya : http://jalandakwahbersama.wordpress.com (Dewi Yana)

    Rizal : Wa’alaikum salam wr. wb., Bunda Dewi. Saya juga mohon maaf Bunda, dah lama banget nih saya nggak berkunjung ke Blog nya bunda..

  15. ALRIS says:

    Postingan mantap. Bener, harus berani buat keputusan buat masa depan. Salam.

    Rizal : Salam juga mas Alris… ini kunjungan pertama ya disini, thanks ya Mas Alris lantaran dah tersesat sampe di BLOG ini :)

    Selalu menyenangkan bisa memperoleh temen baru di blogsphere ini :)

  16. pakwo says:

    salam bahagia, sobat….okey saya setuju dalam arti seseorang dalam hidup ini harus merdeka, dengan pilihannya… kalau tidak bahaya tu….jadi apapun…. pilihan orang tua perlu didengar namun keputusan akhir adalah di tangan kita sendiri

    Rizal : Tentu saja Pakwo… Pada prinsipnya sih, setiap orang tua pasti lah menginginkan YANG TERBAIK untuk anaknya. Tapi terkadang APA YANG TERBAIK menurut orang tua, mungkin belum tentu sesuai atau bisa jadi bukanlah yang terbaik bagi si anak.

    Misalnya, si anak sangat menyukai dunia bisnis dan komputer. Dia menyukai segala sesuatu tentang komputer dan bisnis seputar komputer. Dia ingin kuliah dan berkarir di bidang komputerisasi lah…

    Tapi orang tuanya (yang kebetulan pegawai PNS), mati – matian menyuruh anaknya masuk ke sekolah ‘yang kalo keluar nanti langsung dapat ikatan dinas’ karena berpikir bahwa YANG TERBAIK untuk anaknya adalah dengan menjadi Pegawai seperti dirinya…

    Akhirnya kan yang kasihan si anak nih… :)

  17. Education says:

    Great article . Will definitely copy it to my website.

  18. om………….salam hangat dari blue
    p cabar

    Rizal : Kabar baik Blue… salam hangat juga :)

  19. orange float says:

    yah, hidup tanpa intervensi dan campur tangan orang lain. my life is mine

    Rizal : Yang penting TIDAK MENUTUP DIRI dari mendengarkan atau mengikuti saran – saran positif dari orang – orang atau teman – teman yang menyayangi kita ^_^

  20. liudin says:

    benar juga mas, terkadang ada saja yang dikatakan orang tua yang menurut kita buruk ternyata baik

    saya sendiri terkadang bingung menentukan sikap, misalnya saja beberapa kali saya mendapatkan tawaran pekerjaan yang lumayan lah gajinya untuk era teknologi saat ini, tapi menurut ortu mesti nyelesain kuliah dulu, baru kerja.

    saya sendiri terkadang merasa gimana gitu, masalahnya menurut saya orang tua terlalu berat jika harus menanggung kuliah saya dan kuliah adik2 saya,?

    semester ini, rencananya mau kerja dulu dan ngikut kul executive saja, tapi ortu nggak setuju, katanya pendidikan itu no 1 mengenai biaya pasti ada jalan keluarnya,

    eh,,, ternyata nggak disangka ada orang yang berbaik hati mau memberikan beasiswa bahkan tanpa ikaatan kontrak kerja, meskipun dalam hati menyisakan banyak pertanyaan mengenai hal ini? biar waktu yang menjawab

    Rizal : Saya sungguh KAGUM dengan pola pikir Mas Liudin yang begitu memikirkan kedua ortu Mas Liudin.

    Dulu waktu saya kuliah, saya bener – bener MIRIS dengan sikap beberapa temen yang masih aja suka ‘membohongi’ orang tuanya, biar dapet kiriman uang lebih. Misalnya, biaya untuk KKN sebesar Rp 500.000,-, mereka bilangnya Rp 750.000,-…

    Wah, sebetulnya ada beberapa hal tuh yang ingin saya sharingkan dari comment diatas dengan Mas Liudin… semoga di kesempatan lainnya bisa ya… ^_^

Leave a Reply